Sejarah Kerajaan Tarumanegara Terlengkap

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Etimologi dan Toponimi

Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat yaitu Citarum. Pada muara Citarum ditemukan percandian yang luas yaitu Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan Taruma.
Sumber Sejarah

Bila menilik dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.


Prasasti yang ditemukan

1. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor.
2. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor

5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor


Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.
Prasasti Pasir Muara

Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan:

    ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahannya menurut Bosch:

    Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.
Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

    vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

    Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang "padatala" (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan dan fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.


Prasasti Telapak Gajah
Dua arca Wishnu dari Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Tarumanagara sekitar abad ke-7 Masehi. Mahkotanya yang berbentuk tabung menyerupai gaya seni Khmer Kamboja.

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

    jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
    Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.
Prasasti Jambu

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

    shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel:
    Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.
Sumber berita dari luar negeri

Sumber-sumber dari luar negeri semuanya berasal dari berita Tiongkok.

    Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa") hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama kotor". Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa, tetapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang sekarang terletak di taman purbakala Pugung Raharjo, meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien.
    Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang terletak di sebelah selatan.
    Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.

Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.

Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang Taruma.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.


https://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara

runtuhnya kerajaan tarumanegara
letak kerajaan tarumanegara
kehidupan politik kerajaan tarumanegara
peninggalan kerajaan tarumanegara
kerajaan kalingga
masa kejayaan kerajaan tarumanegara
letak geografis kerajaan tarumanegara
kerajaan holing 

ARTIKEL TERBARU:

ARTIKEL LAINYA:

    Direkomendasikan

    Sejarah Kerajaan Kalingga Terlengkap

    Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan Tiongkok, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya. Historiografi

    Catatan sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Kalingga didapatkan dari dua sumber utama, yaitu dari kronik sejarah Tiongkok, serta catatan sejarah manuskrip lokal, ditambah dengan tradisi lisan setempat yang menyebutkan mengenai Ratu legendaris bernama Ratu Shima.
    Sumber lokal

    Carita Parahyangan

    Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasena. Sanaha dan Bratasena memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

    Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Ratu Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

    Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

    Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

    Kisah lokal
    Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.

    Berita Tiongkok
    Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.
    Catatan dari zaman Dinasti Tang

    Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.

    Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera. Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading. Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

    Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.
    Catatan I-Tsing

    Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.
    Peninggalan

    Peninggalan Kerajaan Ho-ling adalah Prasasti Yaitu:

    Prasasti Tukmas

    Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.

    Prasasti Sojomerto
    Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu. Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

    Candi dan situs bersejarah

    1. Candi Angin Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

    2. Candi Bubrah Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

    Situs Puncak Sanga Likur Gunung Muria. Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat. Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.

    https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga
    runtuhnya kerajaan kalingga
    pendiri kerajaan kalingga
    kehidupan politik kerajaan kalingga
    masa kejayaan kerajaan kalingga
    raja yang memerintah kerajaan kalingga
    rangkuman sejarah kerajaan kalingga
    kerajaan kalingga india
    makalah kerajaan kalingga

    ARTIKEL TERBARU:

    ARTIKEL LAINYA:

      Direkomendasikan

      Sejarah Kerajaan Melayu Terlengkap

      Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.

      Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum akhirnya terintegrasi dengan Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682.

      Penggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100-150 seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.

      Sumber Berita Cina

      Berita tentang kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I Tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713), yang termasyhur yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang) dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, singgah di Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya, dan menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Tionghoa.


      Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri, dengan terjemahan sebagai berikut:

      Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan .... Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Dia menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah .... Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar) .... Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India).

      Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan oleh I-tsing sebagai berikut:

      Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua .... Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.

      Menurut catatan I Tsing, Sriwijaya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Ma-la-yu. Tidak disebutkan dengan jelas agama apa yang dianut oleh kerajaan Melayu.

      Berita lain mengenai kerajaan Melayu berasal dari T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961, kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya, namun setelah munculnya Sriwijaya sekitar 670, kerajaan Melayu tidak ada lagi mengirimkan utusan ke Cina.

      Lokasi Pusat Kerajaan

       
      Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Kerajaan Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di hulu sungai Batang Hari, sebab pada alas arca Amoghapasa yang ditemukan di Padangroco terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Melayu.

       
      Prof. Slamet Muljana berpendapat, istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sanskerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Dan menurut prasasti Tanjore yang dikeluarkan oleh Rajendra Chola I bertarikh 1030, menyebutkan bahwa ibu kota kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit.

      Dari keterangan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, yang pernah mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanannya dalam Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia) yang menyatakan bahwa ia mengunjungi suatu negeri yang terletak pada garis khatulistiwa pulau penghasil emas atau Golden Khersonese yakni pulau Sumatera.


      Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu

      kehidupan politik kerajaan melayu
      makalah kerajaan melayu
      peninggalan kerajaan melayu
      runtuhnya kerajaan melayu
      masa kejayaan kerajaan melayu
      candi peninggalan kerajaan melayu
      hasil peninggalan kerajaan melayu
      sejarah kerajaan melayu kuno 

      ARTIKEL TERBARU:

      ARTIKEL LAINYA:

        Direkomendasikan

        Kumpulan Parikan Jawa Sing Bener

        CONTO PARIKAN JAWA


        Iwak pitik dhadha menthok
        lungguh dingklik ndondomi kathok

        Gatot koco mangan gombong...
        he konco ojo mung ndomblong....

        tuku klopo neng pasar loak
        rondho ra popo sing penting penak...

        Mangan soto imbuh brutu,
         krasa wareg langsung turu.
        Tangi turu marani wong ayu.
        Bareng wis ketemu tiba'e ''wah...sudah laku.

        endok gemak bunder- bunder
        kroso penak gayer-gayer

        sego tanak lawui kecambah
        bareng penak njaluk tambah

        gak kurang sego.., gak kurang ketan...wakul kosong di kurepno....
        gak kurang rondho..., gak kurang perawan...bojone uwong koq dikurepno...

        Nasi Uduk Ikan Tongkol
        Sambil Duduk Pegang Kempol

        Good Morning Selamat Pagi
        Untu Kuning Menawan Hati

        Abang-abang Gendero Londo
        Klambi Abang Seneng'e Sing Dowo

        Mlaku-mlaku ketemu wit poh
        Ape njupuk eh kenek penthung
        Lek mlaku ojok gopoh-gopoh
        Gak kethok watu eh, malah kesandhung

        Numpak sepur nang tlatah Melayu
        Pengene nang KL eh nyasar nang Bondowoso
        Lek mangan ojok ngguya-ngguyu
        Engkok kesereten kaet kroso

        Polisi tidur dhuwur semene
        Akeh montor wis ciblok kesandung
        Parikane mek sik sakmene
        Lek eleng maneh engkok tak sambung
        Awan2 ojo menek kelopo
        menek kelopo metik mung siji
        jadi perawan ojo ngejek joko
        joko ngono mengandung gizi

        Kucing adus udane moro
        Lek wis teles yo sisan diwisuh
        Ojok percoyo ambek sing ngaku joko
        Njekethek dhe'e wis anak sepuluh..

        weruh mas Yono nganggo klambi ijo
        ganteng tur yo masih joko
        ojo ketungkul moro moro
         ndang mbojoo mengko keburu tuo

        umbah-umbah cedak sumur
        lemek kelir ijo abang
        mergo gawe sak umur-umur
        golek bojo ojo sembarang

        yu juminten mbeber kloso
        cekap semanten parikan kulo

        nyangking ember kiwo tengen,
        lungguh jejer tombo kangen

        Jeng suminten gelar kloso
        Dodol kupat neng gapuro
        Dinten meniko sampun poso
        kulo nyuwun pangapuro

        onok ondo di gage pak gito
        kulo lare jowobade pados konco

        tuku manuk nang tambak....
        turu maneh ueeennaaakkkk.....

        wajik klethik, gula jawa
        luwih becik wong prasaja


        Lampu sentir lengone potro.
        Tiwas naksir ra iso nggowo.

        Tir podo irenge.
        Sir podo senenge.

        Tir di campur roti.
        Sing di sir kok yo ra ngerti.

        Tuku ali-ali nang banyu urip.
        Ojo lali karo sing nggawe urip.

        Munggah bayang mangan glali.
        Wayahe sembahyang ojo nglali.

        Menyang besan nyangking peti.
        Urip sepisan sing ati-ati.

        Munggah gunung nyangking gabah.
        Nyangking dandang isine glati.
        Ojo bingung ojo susah.
        Wis gek ndang nepakne ati.

        Ngasak gabah wadai peti.
        Wis ndang ibadah nggo sangu mati.

        angkutan umum dadi becax
        mbiyen premium saiki pertamax.

        sore-sore golek beling,
        ojo sampe golek ngisor pring.
        sore-sore ono rondo kempling,
        ojo sampe dikon jengking

        nek tuku minyak yo malem kemis,
        nek kroso penak ra gelem wis,..

        awan  awan nongkrong ning prapatan,
        yen golek prawan sing gelem dijak cipokan

        Tuku suket sak gendhel skeet
        Mlebune anget metune pliket..

        Nyekel endas kiwo tengen
        nek di gagas malah tambah kangen

        dolan pasar tukune pecel,
        ngisor puser modele munthel

        goleko bojo wong magelang,
        dimag-meg pegele ilang

        jangan semur go madang lemper,
        didemek duwur seng ngisor ngiler

        .godhong preng tibone garing,
        tiwas dijengking kok metune kuning

        suwe ora jamu,
        jamu sogok tuntheng
        suwe ora ketemu,
        ketemu pisan kok wis meteng

        suwe ora jamu,
        jamu godhong pelem
        suwe ora ketemu,
        ketemu maneh wis nang sarkem

        Suwe ora jamu,
        Jamu godong tela
        Suwe ra ketemu,
        Temu maneh lha koq wis randa.

        Suwe ora jamu
        Jamu godong cocor bebek
        Suwe ra ketemu ..
        Temu mane koq wis tuwek.

        mbedil bulus karo ngamuk
        bulus luwe di pakani krupuk
        bareng sadar nek sing di elus manuk
        soyo gemes trus di tubruk

        es buah rasane legi
        tuku siji diombe sore
        wegah ah aq wedi.
        mesthi ono penyakite.

        tuku wedi nyang pasar pariaman
        nek sampean wedi yo nganggo pengaman

        Bob Tutupoli nembang kroncong
        Kiwo bal poli tengen bal pingpong

        Sego kucing merem mangane
        Bojo plencing ono tanggane

        Sumber: http://artarcell.blogspot.co.id/p/parikan-jawa.html
        Pepak Basa jawa SD, SMP, lan sederajat

        parikan jawa saru
        pantun jowo cinta
        parikan jowo nasehat
        parikan jowo tresno
        parikan suroboyoan
        kumpulan parikan jawa
        pantun jowo kocak
        parikan jawa timuran

        ARTIKEL TERBARU:

        ARTIKEL LAINYA:

          Direkomendasikan

          Daftar kerajaan kerajaan yang pernah ada di Nusantara

          Inilah 15 Daftar Nama Nama Kerajaan Di Indonesia Yang Pernah Ada.


          Alhamdulillah sekali ternyata dinegeri kita tercinta ini banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah baik itu peninggalan dari agama Islam, Hindu, Budha, dan lain-lain. Belum lagi masih banyak lagi peninggalan selain kerajaan seperti Arca, relief, bangunan seperti candi-candi, senjata, dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.





          Ijinkan kami merangkum sedikit demi sedikit sejarah dunia terutama diIndonesia agar anak-anak kita kelak juga dapat mengenal dan memahami arti dari sejarah maupun peninggalan nenek moyang kita. Dan inilah awal kami membagikan awal dari sejarah tersebut hingga menuju kedalam kelengkapan dari Judul demi judul:





















          1. Kerajaan Kutai di Kalimantan timur tahun 400 M (Kerajaan Hindu)

          Raja yang pertama : Kudungga

          Raja yang terkenal : Mulawarman
          2. Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat tahun 500 M (Kerajaan Hindu)

          Raja yang terkenal : Purnawarman
          3. Kerajaan Kalingga di Jepara (Jawa Tengah) tahun 640 M (Kerajaan Budha)

          Raja yang terkenal : Ratu Shima:
          4. Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah tahun 732 M (Kerajaan Hindu)

          Raja yang pertama : Sanjaya

          Raja yang terkenal : Balitung
          5. Kerajaan Sriwijaya di Palembang abad VII (Kerajaan Budha)

          Raja yang pertama : Sri Jaya Naga

          Raja yang terkenal : Bala Putra Dewa
          6. Kerajaan Medang di Jawa Timur abad IX (Kerajaan Hindu)

          Raja yang terkenal : Empu Sendok:
          7. Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur tahun 1073 M (Kerajaan Hindu)

          Raja yang pertama dan terkenal : Airlangga
          8. Kerajaan Kediri di tepi Sungai Berantas Jawa Timur abad XII M (Kerajaan Hindu)

          Raja yang pertama : Jaya Warsa

          Raja yang terkenal : Jaya Baya
          9. Kerajaan Singasari di Jawa Timur tahun 1222 - 1292

          Raja yang pertama : Sri Rajasa (Ken Arok)

          Raja yang terkenal : Kertanegara (Joko Dolok)
          10. Kerajaan Majapahit di Delta Brantas tahun 1293 - 1520 (Kerajaan Hindu)

          Raja yang pertama : Raden Wijaya

          Raja yang terkenal : Hayam Wuruk

          Raja yang terakhir : Brawijaya (Kertabumi)

          Patih yang terkenal : Gajah Mada
          11. Kerajaan Pajajaran di Priangan (Jawa Barat) tahun 1333 (Kerajaan Hindu)

          Raja yang terkenal : Sri Baduga Maharaja

          Raja yang terakhir : Prabu Sedah
          12. Kerajaan Demak di Jawa Tengah tahun 1513 - 1546 (Kerajaan Islam)

          Raja yang pertama : Raden Patah (Sultan Bintoro)

          Raja yang terakhir : Sultan Trenggono
          13. Kerajaan Pajang di Surakarta tahun 1568 - 1586 (Kerajaan Islam)

          Raja yang pertama : Joko Tingkir (Sultan Hadiwijoyo)

          Raja yang terakhir : Ario Pangiri
          14. Kerajaan Mataram Islam di Kota Gede (Yogyakarta) abad XVI Masehi (Kerajaan Islam)

          Raja yang pertama : Suto Wijoyo (Panemabahan Senopati)

          Raja yang terkenal : Sultan Agung
          15.









          16.
          Kerajaan Banten di Jawa Barat tahun 1556 - 1580 (Kerajaan Islam)

          Raja yang pertama : Hasanuddin

          Raja yang terkenal : Sultan Ageng

          Raja yang terakhir : Panembahan Yusuf



          Kerajaan Melayu di Pulau Sumatera



          www.invir.com/kerajaan.html

          kerajaan di indonesia yang masih ada
          kerajaan di indonesia dan peninggalannya
          sejarah kerajaan di indonesia
          kerajaan indonesia sebelum masehi
          kerajaan kerajaan hindu budha di indonesia
          nama kerajaan hindu budha beserta rajanya
          kerajaan kerajaan hindu di indonesia
          nama nama kerajaan islam di indonesia

          ARTIKEL TERBARU:

          ARTIKEL LAINYA:

            Direkomendasikan